MENANGGAPI HASIL BELAJAR ANAK

oleh : Sandi Riyanto, S.Pd

Anak adalah anugerah yang indah yang Allah berikan kepada hamba-Nya. Sudah seharusnya anugerah tersebut dijaga dengan sebaik mungkin. Karena tidak semu orang diberikan karunia berupa keturunan. Di sana ada hamba-hamba-Nya yang Allah takdirkan hidup tanpa mempunyai keturunan sepanjang masa.

Allah mengisyaratkan dengan firman-Nya

اَوْ يُزَوِّجُهُمْ ذُكْرَانًا وَّاِنَاثًاۚ وَيَجْعَلُ مَنْ يَّشَاۤءُ عَقِيْمًاۗ اِنَّهٗ عَلِيْمٌ قَدِيْرٌ

atau Dia menganugerahkan (keturunan) laki-laki dan perempuan, serta menjadikan mandul siapa saja yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Mahakuasa.” (QS As Syura : 50)

Maka sudah menjadi ketetapan Allah, ada orang-orang yang Allah takdirkan tidak bisa mempunyai keturunan. Namun sebagai hamba-Nya yang beriman tentu harus senantiasa berprasangka baik kepada Allah dan terus memanjatkan doa agar Allah Yang Maha Pemberi memberikan karunia berupa keturunan.

Ada sebuah kisah yang bisa dijadikan tauladan, bagaimana Nabi Zakariya yang tidak lelah berdoa kepada Allah agar Allah karuniakan kepadanya keturunan. Dengan keadaan yang sudah beruban dan istrinya yang tidak bisa mempunyai keturunan, ia tidak menyerah dalam bermunajat kepada-Nya. Sehingga, karena sebab ketekunan dan keikhlasan Nabi Zakariya dalam berdoa, Allah kabulkan permintaannya dengan mengkaruniakan seorang anak, yang kemudian diberi nama Yahya. Padahal Nabi Zakariya saat itu dalam usia yang tidak muda, rambutnya yang sudah dipenuhi uban dan istrinya dalam keadaan tidak bisa mempunyai keturunan. Namun begitulah ketetapan-Nya, jika Allah menetapkan sesuatu, Allah hanya berkata jadilah! maka akan terjadi.

Allah abadikan kisah tersebut di dalam Al-Qur’an

فَنَادَتۡهُ الۡمَلٰٓٮِٕكَةُ وَهُوَ قَآٮِٕمٌ يُّصَلِّىۡ فِى الۡمِحۡرَابِۙ اَنَّ اللّٰهَ يُبَشِّرُكَ بِيَحۡيٰى مُصَدِّقًۢا بِكَلِمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ وَسَيِّدًا وَّحَصُوۡرًا وَّنَبِيًّا مِّنَ الصّٰلِحِيۡنَ‏

“Kemudian para malaikat memanggilnya, ketika dia berdiri melaksanakan salat di mihrab, “Allah menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan (kelahiran) Yahya, yang membenarkan suatu kalimat (firman)1 dari Allah, panutan, berkemampuan menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang nabi diantara orang-orang saleh.”

قَالَ رَبِّ اَنّٰى يَكُوۡنُ لِىۡ غُلٰمٌ وَّقَدۡ بَلَغَنِىَ الۡكِبَرُ وَامۡرَاَتِىۡ عَاقِرٌؕ قَالَ كَذٰلِكَ اللّٰهُ يَفۡعَلُ مَا يَشَآءُ‏‏

“Dia (Zakaria) berkata, “Ya Tuhanku, bagaimana aku bisa mendapat anak, sedang aku sudah sangat tua dan istriku pun mandul?” Dia (Allah) berfirman, “Demikianlah, Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS Ali Imran 39-40)

Sudah seharusnya bagi seseorang yang beriman, ia bersyukur ketika Allah karuniakan kepadanya keturunan, karena tidak semua orang diberikan nikmat ini. Kisah Nabi zakariya di atas menjelaskan kepada kita, betapa besarnya nikmat keturunan. Bersyukur di sini bukan hanya sekedar ritual, tapi juga bersyukur dengan cara menjaga dengan sebaik mungkin pemberian yang telah Allah berikan kepadanya. Anak lebih dari pemberian, tapi ia juga merupakan amanah yang harus dijaga dengan sebaik-baiknya.

Berkata Jamaluddin Al Qashimi rahimahullah

قالصبي امانة عند والديه‏‏

Anak merupakan amanah bagi kedua orangtuanya”

(Mau’idzatul Mu’minin : 278 – Tarbiyyatul Awlad : 26 Syaikh Najib Jalwah)

Kita tahu bahwa yang namanya amanah, suatu saat berarti akan diambil kembali oleh yang memberikan amanah kapan pun. Dan yang diberikan amanah, akan mempertanggung jawabkan dari amanah yang ia terima.

Artinya, suatu saat nanti Allah akan ambil kembali kapan saja. Dan bukan hanya diambil, tapi Allah akan pertanyakan terhadap amanah yang diberikan kepadanya.

Rasulullaah shallallahu alaihi wasallam bersabda

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya atas yang dipimpin.” (HR Bukhari : 5188)

Orangtua menjadi pemimpin di lingkungan keluarganya. Orangtua akan dimintai pertanggung jawaban atas amanah yang diberikan kepadanya. Oleh karena itu, sudah seharusnya bagi orangtua untuk memberikan bekal terbaik untuk anaknya agar bisa meraih kesuksesan dunia dan keselamatan di akhirat. Maka siapa saja yang telah melakukan itu semua, berarti ia telah menjaga amanah tersebut dengan sebaik-baik penjagaan.

Salah satu cara terbaik untuk menjaga amanah tersebut adalah melalui jalan tarbiyyah (pendidikan). Karena selain memberikan nafkah lahir, orangtua juga mempunyai kewajiban memberikan pendidikan terbaik kepada anaknya. Maksud pendidikan di sini adalah pendidikan yang memuat tentang syariat Allah, bukan sekedar pendidikan konvensional.

Allah berfirman

یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ قُوۤا۟ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِیكُمۡ نَارࣰا

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka” (QS At Tahrim : 4)

As Sa’diy rahimahullah menafsirkan

ووقاية الأهل والأولاد، بتأديبهم وتعليمهم، وإجبارهم على أمر الله، فلا يسلم العبد إلا إذا قام بما أمر الله به في نفسه، وفيما يدخل  تحت ولايته من الزوجات والأولاد وغيرهم ممن هو تحت ولايته وتصرفه.

“Menjaga keluarga dan anak-anak (dari api neraka) dengan cara mendidik mereka dan mengajarkan mereka (ilmu agama), serta memaksa mereka untuk melaksanakan perintah Allah. Karena tidak akan selamat seorang hamba kecuali jika ia melaksanakan perintah Allah pada dirinya dan kepada siapa saja yang berada di bawah tanggung jawabnya mulai dari istri-istrinya, anak-anaknya, atau siapa saja yang berada di bawah tanggung jawabnya.”

(Taisir As sa’diy, Qs At Tahrim ayat 4)

Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu juga menafsirkan ayat di atas

علموهم وادبوهم

“Ajari mereka (ilmu agama) dan didiklah mereka”

(Tafsir Ath Thabary, QS At Tahrim ayat 4)

Ada sebuah ungkapan yang indah yang perlu kita renungkan

اذا كنت ايها الاب الرحيم! تصون ولدك من نار الدنيا تحفظ منها اشد الحفظ وتخشى عليه منها اعظم الخشية وما هو جزء من سبعين جزء من نار جهنم

“Jika engkau (saja) wahai ayah, melindungi anakmu dari api dunia, menjaganya dari api dunia dengan sebaik penjagaan, engkau takut anakmu terkena api dunia dengan ketakuatan yang besar, padahal tidaklah (panas) api tersebut melainkan hanya 1 bagian dari 70 bagian (panasnya) api neraka jahanam.”

(karena dalam sebuah hadits disebutkan bahwa api dunia ini merupakan 1 bagian dari 70 bagian panasnya api neraka jahanam)

(Tarbiyatul Awlad : 24 Syaikh Najib Jalwah)

Peran orangtua dalam pendidikan anak sangatlah besar. Di tangan orangtua akan ditentukan agama anaknya.

Rasulullaah shallallahu alaihi wa sallam bersabda

ما مِن مَوْلُودٍ إلّا يُولَدُ على الفِطْرَةِ، فأبَواهُ يُهَوِّدانِهِ أوْ يُنَصِّرانِهِ، أوْ يُمَجِّسانِهِ

“Tidaklah (seseorang) dilahirkan kecuali lahir diatas fithrah, maka orangtuanya yang menjadikannya yahudi, nashrani, atau majusi.”

(HR Bukhari : 1358)

Sebagai orangtua, tentu tidak semuanya mampu mendidik anak-anaknya sepenuh waktunya. Terkadang ada beberapa kendala yang membuatnya tidak bisa sepenuhnya mendidik anak-anaknya. Dari sini kemudian munculah lembaga-lembaga pendidikan yang menawarkan berbagai macam solusi. Di sinilah pentingnya peran orangtua untuk memilih lembaga pendidikan terbaik bagi anak-anaknya. Ia tidak hanya mempertimbangkan kesuksesan dunia saja, namun juga pertimbangan kesuksesan akhirat untuk anak-anaknya.

Pendidikan di Indonesia banyak mengalami perubahan kurikulum dari tahun ke tahun. Meskipun demikian, Tujuan Pendidikan Nasional masih tetap dan tidak berubah. Jika kita perhatikan, dalam manajemen pendidikan tidak akan lepas dari tiga unsur, yaitu input, proses, dan output. Ketiga unsur ini akan selalu ada, baik dalam manajemen pendidikan ataupun manajemen lainnya. Dari ketiga unsur tersebut, unsur yang paling menentukan adalah proses, karena di dalam proses itu terdapat inti dari pendidikan yaitu pembelajaran.

Proses pembelajaran sangat urgen sekali perannya dalam pendidikan, karena di sinilah ruh pendidikan itu terjadi. Seorang pendidik akan berinteraksi langsung dengan peserta didik, bagaimana ia mendidik, mengajar, dan memberikan suri tauladan kepada peserta didik. Sehingga hal itu akan sangat berpengaruh terhadap kesuksesan pendidikan itu sendiri. Dalam proses pembelajaran sendiri, terdapat tiga unsur yang selalu berkaitan, yaitu perencanan, pelaksanan, dan asesemen. Sedangkan yang akan kita bahas di sini adalah asesmen.

Asesmen merupakan sebuah evaluasi dari serangkaian proses pembelajaran. Asesmen dilakukan sesuai kebutuhan pendidik. Asesmen sendiri terbagi menjadi dua, asesmen formatif dan asesmen sumatif.

  1. Asesmen formatif merupakan asemesn yang dilakukan di dalam proses pembelajaran. Asesmen formatif bertujuan untuk memantau dan memperbaiki pembelajaran serta mengevaluasi pencapaian tujuan pembelajaran. Asesmen formatif dilakukan dengan mengumpulkan informasi mengenai peserta didik yang mengalami hambatan atau kesulitan belajar dan perkembangan belajar peserta didik. Informasi tersebut digunakan sebagai umpan balik bagi peserta didik untuk mengembangkan kemampuan dalam memonitor proses dan kemajuan belajar. Sedangkan bagi pendidik hasil asesmen digunakan untuk merefleksikan dan meningkatkan efektivitas pembelajaran. Dengan begitu, semua peserta didik mampu memahami dengan baik materi pembelajaran. Asesmen formatif dilakukan sebelum pembelajaran (diagnostik) dan ketika proses pembelajaran.
  2. Asesmen sumatif merupakan asesmen yang dilakukan setelah proses pembelajaran. Asesmen sumatif bertujuan untuk menyajikan hasil belajar peserta didik dalam setiap Tujuan Pembelajaran, menentukan ketercapaian peserta didik sesuai dengan Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran, menentukan kenaikan kelas atau kelulusan pada satuan pendidikan.

Setiap anak sudah pasti akan berbeda hasil asesmen sumatifnya, jika dilakukan asesmen. Masing-masing anak mempunyai kemampuan yang berbeda sesuai dengan kemampuan mereka dalam menangkap materi pembelajaran dan kesiapan mereka dalam menghadapi asesmen sumatif. Namun, asesmen ini bersifat tulis, dengan kata lain, asesmen sumatif tulis hanya bisa mengukur kecerdasan kognitif anak saja dan tidak bisa mengukur kecerdasan anak yang lainnya.

Menurut Howard Garnder tahun 1983, kecerdasan anak bukan hanya kognitif saja, namun juga mempunyai berbagai macam yang lainnya, di antaranya:

  1. Kecerdasan linguistik

Kecerdasan linguistik adalah kemampuan       menggunakan kata secara efektif. Pandai berbicara, gemar bercerita dan dengan tekun mendengarkan cerita atau membaca merupakan tanda anak yang memiliki kecerdasan linguistik yang menonjol.

  1. Kecerdasan Logika Matematika

Kecerdasan logika matematika pada dasarnya melibatkan kemampuan untuk menganalisis masalah secara logis, menemukan atau menciptakan rumus-rumus atau pola matematika dan menyelidiki sesuatu secara alamiah.  Anak yang seperti ini adalah anak yang selalu yakin bahwa semua pertanyaaan memiliki suatu penjelasan rasional yang masuk akal sehingga sering lebih merasa nyaman berhadapan dengan sesuatu yang dapat dikategorisasi, diukur, dianalisa dan ditilik kuantitasnya dalam berbagai cara.

  1. Kecerdasan Visual Spasial

Kecerdasan visual-spasial memungkinkan orang membayangkan bentuk geometri atau tiga dimensi dengan lebih mudah karena ia mampu mengamati dunia spasial secara akurat dan mentransformasikan persepsi ini termasuk di dalamnya adalah kapasitas untuk memvisualisasi, menghadirkan visual dengan grafik atau ide spasial, dan untuk mengarahkan diri sendiri dalam ruang secara tepat. Kecerdasan ini juga membuat individu mampu menghadirkan dunia ruang secara internal dalam fikirannya.

  1. Kecerdasan Gerak tubuh

Anak dengan kecerdasan gerakan tubuh di atas rata-rata senang bergerak dan menyentuh. Mereka memiliki kontrol pada gerakan, keseimbangan, ketangkasan dan keanggunan dalam bergerak, dan mengeksplorasi dunia dengan otot-ototnya

  1. Kecerdasan Interpersonal

Kecerdasan interpersonal adalah kemampuan untuk bisa memahami dan berkomunikasi dengan orang lain, serta mampu membentuk dan menjaga hubungan, dan mengetahui berbagai peran yang terdapat dalam suatu lingkungan sosial. Memiliki interaksi yang baik dengan orang lain, pintar menjalin hubungan sosial, serta mampu mengetahui dan menggunakan beragam cara saat berinteraksi, adalah ciri-ciri kecerdasan interpersonal yang menonjol.

  1. Kecerdasan Instrapersonal

Kecerdasan intrapersonal merupakan kemampuan seseorang untuk memahami diri sendiri, mengetahui siapa dirinya, apa yang dapat dilakukan, apa yang ingin ia lakukan, bagaimana reaksi diri terhadap suatu situasi dan memahami situasi seperti apa yang sebaiknya ia hindari serta mengarahkan dan mengintrospeksi diri.

(Kecerdasan Majemuk Anak, Sari Pediatri, 2005 : 85 – 92)

Potensi kercerdasan anak di atas hanyalah tinggal potensi jika tidak dilatih dan diarahkan dengan benar. Maka pentingnya orangtua mengetahui minat dan bakat anak-anaknya. Di sisi lain, penjelasan Howard Gardner di atas juga menjadi angin segar dan harapan bagi orangtua yang anaknya selalu mendapatkan hasil yang kurang baik ketika melaksanakan asesmen sumatif tulis. Ternyata, masih ada sisi potensi kecerdasan yang lain yang dimiliki anak-anak kita.

Memang idealnya anak itu memiliki kecerdasan kognitif, karena untuk mempelajari agama ini perlu kecerdasan kognitif. Sebagaimana dikatakan oleh Imam As Asyafi’i rahimahullah

لن تنالوا العلم الا بستة … ذكاء …

“Kalian tidak akan bisa mendapatkan ilmu kecuali dengan enam (perkara) … (pertama) cerdas ….”

Akan tetapi, tugas kita hanya menjalankan amanah, memberikan pendidikan agama yang benar kepada anak-anak kita. Adapun urusan hasil, itu bonus dari Allah. Kita tetap memberikan apresiasi yang lebih terhadap usaha dan semangat anak dalam menjalankan proses pendidikan.

Anak merupakan perhiasan dunia. Ia akan menjadi perhiasan yang indah, apabila kita menunaikan hak-haknya. Di sisi lain, anak juga menjadi fitnah bagi orangtuanya, Allah berfirman

إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya harta dan anak-anak kalian itu (ujian) bagi kalian dan di sisi Allah ada pahala yang besar” (QS At Tagabun : 15)

اختبارا وابتلاء من الله لخلقه ليعلم من يطيعه منمن يعصيه

“Sebagai ujian dan cobaan dari Allah untuk hamba-Nya. Untuk mengetahui siapa yang mentaati-Nya dan siapa yang memaksiati-Nya”

(Tafsir Ibnu Katisr, surah At Tagabun ayat 15)

Merupakan impian semua orangtua memiliki anak yang cerdas dalam segala bidang. Sehingga hal tersebut akan menjadi kebanggaan bagi kedua orangtuanya. Namun Allah memberikan solusi terbaiknya bagi orang yang Allah takdirkan belum memilikinya, Allah berfirman

قُلْ اَؤُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرٍ مِّنْ ذٰلِكُمْۗ لِلَّذِيْنَ اتَّقَوْا عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنّٰتٌ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَا وَاَزْوَاجٌ مُّطَهَّرَةٌ وَّرِضْوَانٌ مِّنَ اللّٰهِۗ وَاللّٰهُ بَصِيْرٌۢ بِالْعِبَادِۚ

“Katakanlah (muhammad), “Maukah aku beri tahukan kepadamu sesuatu yang lebih baik daripada yang demikian itu?” Untuk orang-orang yang bertakwa, di sisi Tuhan mereka ada surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya dan (untuk mereka) pasangan yang disucikan serta rida Allah. Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya.” (QS Ali Imran : 15)

Semoga Allah karuniakan kepada kita anak-anak yang menyejukan mata, yaitu anak yang tumbuh dalam ketaatan kepada-Nya, aamiin.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top