15 FAIDAH DALAM MENYAMBUT BULAN RAMADHAN

oleh: Sandi Riyanto, S.Pd

Segala pujian hanya milik Allah Rabb semesta alam, shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Nabi yang mulia Nabi Muhammad ﷺ , kepada para sahabatnya dan pengikutnya hingga hari kiamat.

Tulisan ini merupakan terjemahan dari kitab

 فائدة في استقبال رمضان وحكم الزكاة 

“Faidah dalam Penyambutan Bulan Ramadhan dan Hukum Zakat” Buah karya Asy Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid hafidzahullah.

Akan tetapi pada tulisan ini, penerjemah mencukupkan hanya membahas faidah-faidah penyambutan bulan Ramadhan saja. Semoga Allah ﷻ melimpahkan pahala dan karunia-Nya kepada penulis dan kepada siapa saja yang membaca tulisan ini. 

Berkata Asy Syaikh Al Munajjid hafidzahullah :  Segala pujian hanya milik Allah ﷻ, shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Rasulullah ﷺ ama bahdu. Ini merupakan faidah-faidah dan ringkasan-ringkasan yang terkumpul dalam: “Penyambutan Bulan Ramadhan dan Hukum Zakat”.  Kami memohon kepada-Nya supaya memberikan manfaat dengan buku ini dan memberikan pahala kepada siapa saja yang turut serta membantu dalam menyiapkan dan menyebarkannya. 

15 faidah dalam menyambut bulan Ramadhan :

 1) Bulan Ramadhan merupakan bulan kebaikan, bulan yang penuh keberkahan, rahmat, ampunan, dan bulan pembebasan (seorang hamba) dari api neraka.  Dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

  من صام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه, ومن قام ليلة القدرإمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه 

“Barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena keimanan dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu, dan barang siapa yang berdiri (shalat malam) pada malam lailatul qadar karena keimanan dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu” (HR Bukhari 2014 dan Muslim 760)

pada hadits yang lain;

  من قام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه 

Barang siapa yang berdiri (shalat malam) di bulan Ramadhan karena keimanan dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu (HR Bukhari 37 dan Muslim 760).

  Rasulullaah shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda;

 إذا كان اول ليلة من شهر رمضان، صفدت الشياطين ومردة الجن، وغلقت ابواب النار فلم تفتح منها باب، وفتحت ابواب الجنة فلم يغلق منها باب، وينادي مناد: يا باغي الخير اقبل، ويا باغي الشر اقصر، ولله عتقاء من النار، وذالك كل ليلة

 “Apabila (telah datang) malam pertama di bulan Ramadhan, maka setan-setan dan jin-jin yang jahat akan dibelenggu, pintu-pintu neraka akan ditutup dan tidak dibuka satu pintu pun, pintu-pintu surga akan dibuka dan tidak ditutup satu pintu pun, dan berserulah penyeru : _wahai pencari kebaikan terimalah (sambutlah bulan Ramadhan), dan wahai pencari keburukan cukuplah (berhenti dari keburukan)_, dan (pada bulan ini) Allah Ta’ala memiliki orang-orang yang Allah bebaskan dari api neraka, hal itu (terjadi) pada setiap malamnya” (HR Tirmidzi 682 Ibnu Majah 1642 dihasankan Al Albani).

  2) Seorang muslim bergembira dengan musim ketaatan dan memberikan kabar gembira atas kedatangan bulan Ramadhan   Allah Ta’ala berfirman :

  قُلْ بِفَضْلِ ٱللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِۦ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا۟ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ 

Artinya: Katakanlah: “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan” (QS Yunus 58). 

Musim ketaatan termasuk karunia rahmat Allah yang wajib atas seorang muslim untuk menampakannya, sehingga mudah-mudahan dia tidak celaka setelah bulan Ramadhan selamanya, sebagaimana dalam sebuah hadits, Rasulullaah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

  افعلوا الخير دهركم، وتعرضوا لنفحات رحمة الله، فان لله نفحات من رحمته، يصيب بها من يشاء من عباده 

“Berbuatlah kebaikan sepanjanng waktu kalian, dan tampakanlah karunia Allah, karena sesungguhnya semua karunia dari rahmat-Nya hanyalah milik Allah yang Allah berikan kepada siapa saja yang Allah kehendaki.” (HR At Thabrani di Al Mu’jam Al Kabir 1/250 dan dihasankan Al Albani di As Shahihah 1890) 

3).Seorang muslim bergembira dengan kedatangan bulan Ramadhan, karena bulan Ramadhan merupakan bulan puasa, bulan ditegakkannya shalat malam (tarawih), bulan Al Qur’an, dan pada bulan tersebut juga seorang muslim berharap ampunan dan pembebasan dari api neraka 

4) Rasulullah shallahu alaihi wa sallam memberikan kabar gembira atas kedatangan bulan Ramadhan, beliau shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

  قد جاءكم رمضان شهر مبارك، افترض الله عليكم صيامه، يفتح فيه ابواب الجنة، وتغلق فيه ابواب الجحيم، وتغل فيه الشياطين، فيه ليلة خير من الف شهر، من حرم خيرها فقد حرم 

“Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan penuh keberkahan, bulan yang Allah wajibkan berpuasa, bulan yang dibukanya pintu-pintu surga, ditutupnya pintu-pintu neraka, dan dibelenggunya setan-setan, dan di bulan tersebut juga ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, barang siapa yang dihalangi untuk mendapatkan kebaikan (malam itu) maka sungguh Allah telah menghalanginya (dari meraihnya).” (HR Ahmad 7148 An Nasai 2106 dishahihkan Al Albani di Shahihul Jami 55).

Berkata sebagian ahli ilmu :  Hadits ini menjadi landasan orang-orang saling mengucapkan selamat kepada orang lain atas datangnya bulan Ramadhan  Bagaimana mungkin seorang mukmin tidak merasa gembira dengan dibukanya pintu-pintu surga?! Bagaimana mungkin seorang pendosa tidak merasa gembira dengan ditutupnya pintu-pintu neraka?! Bagaimana mungkin seorang yang berakal tidak merasa gembira dengan waktu yang dibelenggunya setan-setan?! (Lathaiful Ma’arif Ibnu Rajab hal. 148). 

5) Dahulu salafus shalih bergembira dengan datangnya bulan Ramadhan, mereka meminta kepada Allah Ta’ala agar disampaikan kepada bulan Ramadhan dan meminta taufik kepada-Nya agar bisa melaksanakan ketaatan di dalamnya, sebagaimana yang dikatakan oleh Mu’alla Bin Al Fadl rahimahullah,

  كانوا يدعون الله ستة اشهر ان يبلغهم رمضان ثم يدهونه ستة اشهر ان يقبل منهم 

“Dahulu para salaf, mereka berdoa kepada Allah enam bulan (sebelum Ramadhan) supaya Allah pertemukan mereka dengan bulan Ramadhan, kemudian mereka berdoa selama enam bulan (setelah Ramadhan) supaya Allah menerima amal ketaatan mereka (selama bulan Ramadhan).” (Lthaiful Ma’arif Ibnu Rajab hal. 148).

  Dan dahulu Yahya Bin Abi Katsir rahimahullah berdoa dengan datangnya bulan Ramadhan :

 اللهم سلمني لرمضان وسلم لي رمضان وتسلمه مني متقبلا 

“Ya Allah sampaikanlah aku pada bulan Ramadhan, sampaikanlah Ramadhan untuku, dan ambilah (ketaatan) Ramadhan dariku dalam keadaan diterima”  (Hilyatul Aulia 3/69).

Doa yang semisal juga diriwayatkan dari Makhul rahimahullah  (Ad Du’aa Imam Ath Tabrani 913)  Dan dari Abi Bakar Bin Abi Maryam rahimahullah dia berkata, “saya mendengar guru-guru kami berkata, “apabila datang bulan Ramadhan, maka sungguh telah datang yang mensucikan, dan mereka berkata, “bergembiralah dengan berinfak di bulan tersebut, karena infak di bulan tersebut akan dilipat gandakan (pahalanya) seperti infak di jalan Allah Ta’ala”  (Fadhail Ramadhan Ibnu Abi Dunya 25).

6) Di antara manusia ada orang yang tinggi keinginannya, bertambah kerinduan dan kecintaannya (terhadap Ramadhan), maka ia tunggu kedatangan bulan Ramadhan dari tahun ke tahun, menghitung-hitung (kedatangan) bulan Ramadhan, menyiapkan dengan sebaik-baik persiapan untuknya, menerima dengan sebaik-baik penerimaan, bersiap dengan persiapan yang baik, bersungguh-sungguh dalam melaksanakan ketaatan dengan berbagai macam jenis ketaatan, seperti puasa, shalat malam, membaca Al Qur’an, berdzikir kepada Allah, istigfar, sedekah, berbuat baik kepada manusia, kemudian kebahagiaan untuk yang semisal mereka.

7) Sampainya kita di bulan Ramadhan dan diberikannya taufik oleh Allah untuk melakukan puasa dan shalat malam di dalamnya merupakan kenikmatan yang agung dari berbagai kenikmatan-kenikmatan. Betapa banyak orang yang dahulu bersama kita di bulan Ramadhan, sekarang justru bersama dengan orang-orang yang sudah mati, mereka digadaikan oleh amal-amal mereka, kematian telah medahului mereka dan mereka tidak berjumpa dengan bulan Ramadhan.

Maka wajib bagi kita untuk menyadari nikmat yang sangat agung ini.  Dalam sebuah syair

 يا ذالذي ما كفاه الذنب في رجب حتى عصى ربه في شهر شعبان 

Wahai yang tidak cukup bermaksiat di bulan Rajab …
Sampai dia juga bermaksiat kepada Allah di bulan Sya’ban …

  لقد أظلك شهر الصوم بعدهما فلا تصيره ايضا شهر عصيان 

Sungguh bulan puasa akan manaungimu setelah keduanya …
Maka janganlah kau menjadikannya bulan maksiat (juga) …

 ورتلن وسبح فيه مجتهدا فانه شهر تسبيح وقرآن 

Bacalah Al Qur’an dan bertasbihlah dengan sunguh-sunguh … Karena Ramadhan bulan tasbih dan bulan Qur’an …

 كم كنت تعرف ممن صام في

 سلف من بين اهل وجيران واخوان

Engkau tahu betapa banyak orang yang dahulu berpuasa …
Dari keluarga, tetangga, dan teman …

 افناهم الموت واستبقاك بعدهم حيا فما اقرب القاصي من الداني 

Kematian telah membinasakan mereka dan menyisakan engkau setelah mereka … Masih hidup.

Maka betapa dekatnya yang jauh (kematian) dibandingkan yang dekat (keluarga, tetangga, dan teman) … 

8) Atas kekurangan-kekurangan di bulan Ramadhan, wajib bagi kita untuk memperbaiki niat, memperkuat tekad dan niat yang jujur untuk meninggalkan maksiat, merubah kebiasaan buruk, bersunguh-sungguh dalam ketaatan, dan menjadikan Ramadhan sebagai investasi kebaikan  Berkata Al Imam Ibnul Mubarak rahimahullah,

  ليس للعبد شيء انفع من صدقه ربه في جميع اموره، مع صدقه العزيمة، فيصدقه في عزمه وفي فعله، فسعادته في فعل العزيمة وصدق الفعل، فصدق العزيمة : جمعها وجزمها وعدم التردد فيها، بل تكون عزيمة لا يشوبها تردد ولا انتظار. فاذا صدقت العزيمته بقي عليه صدق الفعل وهو استفراغ الوسع وبذل الجهد فيه، والا يتخلف عنه بشيء من ظاهره وباطنه. فعزيمة القصد تمنعه من ضعف الارادة والهمة ، وصدق الفعل يمنعه من الكسل والفتور 

“Tidak ada sesuatu yang lebih bermanfaat bagi seorang hamba daripada kejujuran terhadap rabbnya pada semua urusannya, bersama dengan kejujuran tekadnya, kemudian ia jujur dalam tekadnya dan perbuatannya, karena kebahagiaan itu terletak pada jujurnya tekad dan jujurnya perbuatan. Maka jujurnya tekad yaitu mengumpulkannya dan menetapkannya, tidak ada keraguan di dalamnya, bahkan menjadikan tekadnya tidak dirusak oleh keragun dan penantian, ketika tekadnya sudah jujur, maka tinggal tersisa jujurnya perbuatan, yaitu meluapkan kemampuan dan berusaha dengan keras agar tidak gagal dengan sebab sesuatu dari yang zahir maupun yang bathin. Karena jujurnya tekad akan mencegah dari lemahnya keinginan dan kemauan, dan jujurnya perbuatan akan mencegah dari rasa malas dan futur.” (Al Fawaid 196 dengan sedikit perubahan) 

9) Kita menyambut bulan Ramadhan dengan tekad yang jujur untuk tidak meninggalkan Al Qur’an di bulan Ramadhan dengan melakukan tilawah harian dan memperbanyak khatam Al Qur’an.

10) Kita menyambut bulan Ramadhan dengan memperbanyak minta ampununan, taubat yang jujur, bergegas kembali kepada Allah, meninggalkan perbuatan dosa dan maksiat, menyesalinya, bertekad untuk tidak mengulanginya, dan mengembalikan kezhaliman kepada yang dizhalimi.

Bulan Ramadhan juga merupakan kesempatan yang besar untuk bertaubat dan bergegas kembali kepada Allah, maka barang siapa yang tidak memperolehnya di bulan ini, maka kapan lagi ia bisa memperolehnya?! Barang siapa yang tidak terbuka untuk ampunan Allah pada bulan ini, maka kapan lagi?! Dan barang siapa diharamkan dari kebaikan di bulan ini maka ia telah dicegah (dari mendapatkannya)  Dalam sebuah syair,

  اذا الروض امسى مجدبا في ربيعه ففي اي حين يستنير ويخصب 

Apabila kebun itu menjadi  gersang pada musim semi …
 Maka kapan lagi ia akan berbunga dan subur ….

11) Kita menyambut bulan Ramadhan dengan mempelajari apa saja yang harus dipelajari dari hukum-hukum puasa sebelum menjadi rancu, seperti rukun-rukun puasa, wajib-wajibnya, sunah-sunahnya, pembatal-pembatalnya, serta apa saja yang bisa mempengaruhi sahnya puasa seperti makan, minum, dan istimna’ dan juga apa saja yang tidak berpengaruh terhadap sahnya puasa seperti bersiwak, menelan ludah, mandi, dan udzur-udzur yang membolehkan untuk berbuka di siang bulan Ramadham dan yang selainnya. 

12) Kita menyambut bulan Ramadhan dengan menghilangkan penghalang-penghalang dan perbuatan-perbuatan yang bisa merusak puasa kita sebelum masuk bulan Ramadhan semampunya.

13) Kita menyambut bulan Ramadhan dengan berdoa dan merendah kepada Allah, agar Allah menyampaikan kita pada bulan Ramadhan dengan keadaan sehat, selamat, dan beriman, serta meminta kepada Allah pertolongan untuk puasa dan shalat malamnya agar sesuai dengan yang Allah ridhai.

14) Kita menyambut bulan Ramadhan dengan berbelanja kebutuhan Ramadhan dan hari raya dan keperluan rumah sebelum masuknya bulan Ramadhan, supaya tidak menyia-nyiakan bulan Ramadham dan malam-malamnya yang penuh keutamaan dengan melakukan jalan-jalan di pasar-pasar atau di mall-mall.

 15) Kami menyambut bulan Ramadhan dengan mengambil bagian dalam menyiapkan masjid-masjid, meyusunnya untuk shalat wajib dan shalat malam, mengharumkannya, memeriksa AC, lampu-lampu, speaker, memperbaharui sajadah, merawat saluran air, tempat wudhu, dan apa saja yang butuh untuk dirawat, menyiapkan tempat shalat bagi perempuan, menambah jumlah mushaf dan buku-buku dakwah dan yang lainnya.

 Kita memohon kepada Allah agar Allah menyampaikan kita di bulan Ramadhan dalam keadaan sehat, selamat, aman dan beriman, dan memohon agar Allah mebantu kita untuk berpuasa di siang harinya dan shalat malam di malam harinya dan memperoleh pahalanya sesuai dengan yang Allah ridhai  aamiin walhamdulillahi rabbil ‘alamin

! . . . . . . . . والله أعلمُ بالـصـواب

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top