oleh : Widji Abu Esta
Al-Qur’an diturunkan lengkap dengan kaifiyat (tata cara) membacanya oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala melalui Malaikat Jibril ‘alaihissalam pada Rasulullah ﷺ, tata cara membaca Al-Qur’an tersebut diajarkan secara musyafahah (langsung dari lisan ke lisan), dan seperti itu pula yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ pada para sahabatnya, dan para sahabat mengajarkannya pada generasi setelah mereka dengan cara yang sama, dan dipelajari turun temurun seperti itu dari generasi ke generasi, hingga akhirnya sampailah kepada kita.
Para ulama kemudian merangkum tata cara membaca Al-Qur’an tersebut menjadi sebuah cabang ilmu tersendiri, yang kini kita kenal dengan istilah ilmu tajwid. Arti tajwid secara bahasa adalah sama seperti tahsin yaitu memperbaiki, yang berasal dari kata jawwada, yujawwidu, tajwiidan.
Adapun secara istilah, disebutkan dalam Hidayatul Qari (I/45), tajwid adalah :
ِإِخْرَاجُ كُلِّ حَرْفٍ مِنْ مَخْرَجِهِ وَإِعْطَاؤُهُ حَقَّهُ وَمُسْتَحَقَّهُ مِنَ الصِّفَات
“mengucapkan setiap huruf dari makhraj (tempat keluarnya) serta memberikan haq dan mustahaq dari sifat-sifatnya.” 1
Imam Ibnu al-Jazariy mengatakan dalam kitab Muqaddimah Jazariyyah2:
إذْ وَاجِبٌ عَلَيْهِمُ مُحَتّمُ ۞ قَبْلَ الشُرُوعِ أَوَّلاً أَنْ يَعْلَمُوا
Maka wajib secara mutlak bagi para pembaca Al-Quran, sebelum mereka mulai membaca Al-Quran, hendaklah terlebih dahulu mengetahui,
مَخَارِجَ الْحُرُوفِ وَالصِّفَاتِ ۞ لِيَلْفِظُوا بِأَفْصَحِ اللُغَاتِ
Tempat-tempat keluarnya huruf hijaiyyah serta sifat-sifat yang mengiringinya, agar mereka bisa mengucapkan huruf demi huruf tersebut dengan bahasa yang paling fasih.
مُحَررِي التَّجْوِيدِ وَالمَوَاقِف ۞ وَما الَّذِي رُسِّمَ في المَصاَحِفِ
Menguasai dan mampu menerapkan kaidah-kaidah tajwid juga kaidah-kaidah waqaf (cara berhenti dan memulai membaca Al-Quran) dengan baik dan benar, serta memahami apa-apa yang tertulis pada mushaf-mushaf ‘Utsmânî,
لأَنَّهُ بِهِ الإِلَهُ أَنْزَلاَ ۞ وَهَكَذَا مِنْهُ إِلَيْنَا وَصَلاَ
Karena bersama dengan tajwid Allâh menurunkan Al-Quran. Serta bersama dengan tajwid pula Al-Quran dari-Nya sampai kepada kita.
وَهُوَ أَيْضاً حِلَْيةُ التِّلاَوَةِ ۞ وَزِينَةُ الأَدَاءِ وَالْقِرَاءَةِ
Dan tajwid juga merupakan penghias bacaan Al-Quran. Bacaan Al-Quran menjadi indah karena tajwid, bukan sekadar karena indahnya suara atau irama.
وَهُوَ إِعطْاءُ الْحُرُوفِ حَقَّهَا ۞ مِنْ صِفَةٍ لَهَا وَمُستَحَقَّهَا
Tajwid adalah memberikan setiap huruf haqnya dari sifat yang terdapat padanya dan juga memberikan mustahaqnya,
Haq huruf adalah sifat asli huruf, yang melekat dan tidak terpisah darinya seperti sifat hams, rakhawah, istifal, infitah, ithbaq, qalqalah dan yang lainnya.
Mustahaq huruf adalah sifat yang sesekali muncul, hanya pada huruf tertentu saja, seperti sifat tafkhim (suara tebal yang dihasilkan dari menaikkan pangkal lidah sehingga suara naik ke langit-langit atas) yang berasal dari sifat isti’la pada ketujuh huruf saja, yaitu خ, ص, ض, غ, ط, ق yang terkumpul dalam ungkapan خُصَّ ضَغْطٍ قِظْ.
Berkata Imam As-Sakhawy:
لِلحَرْفِ مِيْزَانٌ فَلَا تَكُ طَاغِيًا فِيْهِ تَكُ مُخْسِرَالْ مِيْزَانِ
“Setiap huruf memiliki timbangan, maka janganlah melebihkan timbangannya, dan jangan pula mengurangi timbangannya”
Timbangan huruf adalah hak-hak huruf (huruf-huruf Arab yang dilafalkan saat membaca Al-Qur’an yang para ulama menamainya dengan huruf manthuqah atau hijaiyah yang berjumlah 29 huruf) yang harus diberikan saat huruf tersebut dibaca. 3
Kemudian Imam Ibnu al-Jazariy dalam bait lainnya mengatakan:
وَرَدُّ كُلِّ وَاحِدٍ لأَصلِهِ ۞ وَاللَّفْظُ فِي نَظِيرِهِ كَمِثْلهِ
Dan mengembalikan tiap-tiap satu (huruf) kepada asalnya (makhrajnya), adapun lafazh yang memiliki hukum yang sama harus dibaca secara sama (konsisten).
مُكَمِّلاً مِنْ غَيْرِ مَا تَكَلُفِ ۞ بِاللُطْفِ فِي النُّطْقِ بِلاَ تَعَسُّف
(membaca Al–Qur’an itu hendaknya) Dengan sempurna, tanpa berlebih-lebihan, serta lembut dalam pengucapan, tanpa sembarangan membaca (hingga keluar dari batas-batas yang telah ditentukan).
وَلَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ تَرْكِهِ ۞ إِلاَّ رِيَاضَةُ امْرِئٍ بِفَكِّه
Dan tidak ada yang membedakan orang yang mempelajari tajwid dengan orang yang tidak mempelajarinya, kecuali latihan terus menerus secara konsisten dengan lisannya.
Imam Ibnu al-Jazariy juga mengatakan dalam kitab Thayyibah An Nasyr:
“Saya tidak mengetahui faktor yang menyebabkan seseorang sampai kepada kesempurnaan keahlian dalam ilmu tajwid, dan juga sebab seseorang mencapai puncak kebenaran dan ketepatan (bacaan) selain dengan melatih lidah, serta mengulang-ulang pengucapan lafazh dengan diperdengarkan dan diajarkan langsung dari mulut orang yang sudah baik bacaannya. Jadi tajwid bukan dengan mengulum-ngulum lidah, bukan dengan memonyong-monyongkan mulut, dengan membengkok-bengkokkan tulang rahang, bukan juga dengan menggetar-getarkan suara, memperpanjang tasydidi, dan bukan dengan memotong-motong mad. Bukan pula dengan menyenandungkan ghunnah, dengan membatasi huruf Ra’, bukan dengan bacaan yang tidak disukai naluri, bacaan yang tidak membuat tertarik hati dan telinga. Namun tajwid adalah bacaan yang simpel, jernih, manis juga lembut, yang tidak mengulum-ngulum dan juga tergagap-gagap, tidak melampaui batas, tidak memaksakan, tidak dibuat-buat, tidak gagu, tidak keluar dari karakter bangsa Arab dan bahasa para pakar, dengan salah satu bentuk qira’at maupun bentuk pengucapan.” 4
Sebagai penutup, penulis ingin mengutip ucapan Syaikh Dr. Abdul Karim Silmiy Al-Jazairiy saat ditanya tentang “Apa kitab tajwid yang terbaik?”, beliau lalu menjawab, “Kitab tajwid terbaik adalah syaikh (seorang guru Al Qur’an yang mutqin), karena bahwasanya tidak mungkin selamanya mempelajari ilmu tajwid hanya melalui kitab-kitab atau hanya melalui mushaf atau sekalipun menggunakan mushaf tajwid yang tersedia sekarang ini (dengan pen Al-Qur’an digital, dimana saat pen tersebut disentuhkan dalam mushaf, secara otomatis akan keluar suara rekaman sesuai dengan ayat yang ditunjuk), maka syaikh adalah kunci (sebaik-baik kitab tajwid)…”
Sumber:
- Tajwid Lengkap Asy-Syafi’i, Abu Ya’la Kurnaedi Lc., Cet. 3, Pustaka Imam Asy-Syafi’i, 2014.
- Terjemah Tafsiriyah Matan Manzhumah Muqoddimah Jazariyah, Abu Ezra Al-Fadhli, Cet. 7, Online Tajwid, 2019.
- Usus At-Tilawah Ash-Shahihah, Ganjar Abu Muhammad, Cet. 2, Dar Ibnul Jazariy, 2018.
- At Tajwidul Mushawwar, DR. Ayman Rusydi Suwaid, Cet. 2, Dar Al Mushaf Asy Syarif, 2023.
