
oleh : Rafif Shidqi, B.Sh
Pernahkah kita sebagai orang tua berharap terlalu banyak dari sekolah? Menitipkan anak di pagi hari, lalu berharap sore hari ia pulang sebagai anak yang shalih, sopan, rajin ibadah, dan berakhlak mulia. Harapan itu wajar dan manusiawi. Namun ada satu hal yang perlu kita jujur kepada diri sendiri: sekolah hanya membantu, rumahlah yang menentukan. Karena Sejatinya anak yang lahir ke dunia ini dalam keadaan bersih, kemudian kita sebagai orang tuanya lah yang membentuknya
Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam kitabnya Tuhfatul Maudud mengingatkan kita bahwa setiap anak lahir dalam keadaan fitrah yang bersih dan suci. Tidak ada anak yang lahir rusak. Tidak ada anak yang lahir malas beribadah. Yang membentuk mereka adalah lingkungan pertama yang mereka kenal yaitu rumah kita. Sekolah baru hadir setelah fondasi itu terbentuk. Jika fondasi di rumah kuat, sekolah tinggal memperkuat. Namun jika fondasi di rumah rapuh, sekolah terbaik pun akan kesulitan memperbaikinya sendirian.
Anak itu sejatinya lebih banyak meniru daripada mendengar, mereka merekam apa yang mereka lihat langsung, tanpa bisa menyaring mana yang baik dan mana yang buruk. Anak kita tidak terlalu ingat apa yang kita katakan, tetapi mereka sangat ingat apa yang kita lakukan. Dan inilah yang sering kita lupakan sebagai orang tua
Syaikh Ahmad Farid dalam At-Tarbiyah ‘ala Manhaj Ahlis Sunnah wal Jama’ah menegaskan prinsip yang sudah dikenal para ulama:
الْقُدْوَةُ أَبْلَغُ مِنَ الْقَوْلِ
“Keteladanan lebih berbekas daripada ucapan.”
Anak yang melihat ayahnya shalat tepat waktu akan tumbuh lebih dekat dengan shalat, bukan karena disuruh, tetapi karena sudah melihat contohnya setiap hari. Anak yang melihat ibunya membaca Al-Qur’an sebelum tidur akan merasakan bahwa Al-Qur’an adalah bagian dari kehidupan, bukan sekadar pelajaran di sekolah. Kita tidak bisa mengajarkan apa yang tidak kita praktikkan, dan anak kita tahu itu, bahkan sebelum mereka bisa mengatakannya. Oleh karena itu keshalihan anak dimulai dari keshalihan orang tua
Dr. Ahmad bin Nashir Ath-Thayar dalam Kaifa Turabbi Abnaaka menyebut sebuah prinsip yang dalam maknanya:
صَلَاحُ الْأَبْنَاءِ مِنْ صَلَاحِ الْآبَاءِ
“Keshalihan anak berasal dari keshalihan orang tua.”
Ini bukan berarti kita harus menjadi orang tua yang sempurna, tidak ada yang sempurna. Artinya adalah anak kita butuh melihat bahwa kita berusaha. Berusaha memperbaiki shalat kita. Berusaha menjaga lisan kita. Berusaha bersikap adil di rumah. Berusaha hadir, bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara hati. Ketika anak melihat orang tuanya berjuang menjadi lebih baik, tanpa sadar mereka belajar bahwa menjadi baik adalah sesuatu yang diperjuangkan, bukan sesuatu yang datang sendiri.
Lalu muncul pertanyaan yang penting untuk kita renungkan bersama, sejauh mana sebenarnya sekolah bisa membantu? Dan apa yang tidak bisa ia lakukan?
Sekolah punya keterbatasan yang sering kita lupakan. Guru mengajar dua puluh hingga tiga puluh anak sekaligus, dan waktu bersama anak kita hanya beberapa jam sehari. Guru, sebagus apapun beliau, tidak bisa menggantikan satu hal yang hanya bisa diberikan orang tua: cinta tanpa syarat, keteladanan langsung, dan kehadiran yang tulus. Dr. Khalid Ahmad Asy-Syantut dalam Mendidik Anak Laki-laki mengingatkan bahwa keluarga adalah lingkungan sosial pertama dan terkuat yang membentuk karakter anak. Teman sebaya, guru, dan lingkungan luar baru berpengaruh setelah karakter dasar itu terbentuk di rumah. Maka kolaborasi terbaik antara sekolah dan orang tua adalah ini: sekolah memberi ilmu, kedisiplinan, dan lingkungan sosial yang baik, sementara rumah memberi karakter, nilai, dan ruh dari semua yang dipelajari di sekolah. Keduanya tidak bisa berjalan sendiri-sendiri.
Maka untuk para ayah dan bunda yang sedang berjuang. Ketahuilah bahwa setiap langkah kecil yang konsisten di rumah adalah investasi terbesar untuk masa depan anak kita.
Mendidik anak di rumah tidak harus dimulai dari hal yang besar. Mulai dengan mendengarkan bacaan zikir sholat mereka apakah sudah benar atau masih salah, memperbaiki gerakan – gerakan sholatanya, dan untuk mengajarkannya bisa dimulai dengan rutin Ketika sholat sunnah di rumah sehingga kita mampu mengajak dan mengajarkan gerakan –gerakan sholat yang benar. Mulai dari membaca Al-Qur’an walau selembar, bersama anak. Mulai dari mematikan layar saat makan malam dan menggantinya dengan obrolan ringan yang hangat. Mulai dari mengucapkan terima kasih dan maaf kepada anak karena itulah yang akan mereka tiru ketika bergaul dengan orang lain. Hal-hal kecil yang konsisten jauh lebih kuat daripada nasihat panjang yang hanya sekali-sekali.
Dan sebagai dari penutup dari nasihat ini, kami sampaikan bahwa, sekolah adalah mitra terbaik yang bisa kita andalkan. Namun mitra tetaplah mitra, bukan pengganti. Anak kita bukan tanggung jawab sekolah semata. Mereka adalah amanah yang Allah titipkan langsung ke tangan kita sebagai orang tua. Semoga Allah mudahkan kita semua untuk menjadi teladan terbaik bagi anak-anak kita, dan semoga rumah-rumah kita menjadi madrasah pertama yang melahirkan generasi yang shalih dan shalihah.
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan yang menyejukkan hati,
dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74)
