
oleh : Ustadz Muhammad Frandani, Lc., M.Pd
Bulan Muharam bisa dikatakan sebagai bulan refleksi diri setiap muslim untuk melihat satu tahun belakang, apakah lebih baik dari tahun sebelumnya atau tidak? Refleksi merupakan proses seseorang mengambil waktu untuk memikirkan atau merenungkan tentang pengalaman, pikiran, atau peristiwa yang terjadi dalam hidup mereka. Ini melibatkan introspeksi atau penelitian diri untuk memahami lebih dalam tentang diri sendiri, hubungan dengan orang lain, atau dunia sekitar. Refleksi merupakan bagian penting dari pembelajaran dan pertumbuhan pribadi muslim, karena dapat membantu mengidentifikasi pembelajaran dari pengalaman masa lalu dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam artikel ini akan dijelaskan tujuan-tujuan pendidikan dalam prespektif Ibnu Qayyim رَحِمَهُ اللهُ sebagai alternatif refleksi atas pendidikan yang kita jalankan. Sebuah proses pendidikan, baik formal, nonformal, maupun informal hendaknya menetapkan tujuan yang jelas atas pendidikan yang diselenggarakan. Tanpa tujuan yang jelas, bahtera pendidikan akan terombang-ambing, tidak tahu dermaga mana yang akan dituju. Oleh karena itu, setiap penyelenggara pendidikan (termasuk orang tua) akan berbeda satu sama lain, namun tujuan utamanya sama yaitu penghambaan kepada Sang Khalik.
Menurut Ibnul Qayyim رَحِمَهُ اللهُ, inti tujuan sebuah pendidikan adalah menjaga fitrah serta memeliharanya dari penyimpangan dan merealisasikan makna ubudiyah kepada Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى. Ibnul Qoyyim mengatakan,
“Allah menciptakan makhluk untuk beribadah, dan ini adalah tujuan hidup mereka”(1). Ini merupakan realisasi firman Allah, ‘Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusi melainkan untuk beribadah kepadaku”(2).
Inilah tujuan yang dicintai Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى , oleh karena itu, Allah perintahkan dan menjadikannya tujuan dari pencipataan jin dan manusia. Ibnul Qayyim berkata, “Diciptakannya makhluk tidak lain hanya untuk apa yang Ia cintai dan Ia perintahkan, yaitu beribadah kepada-Nya semata”(3).
Tujuan Pendidikan dapat di rangkum sebagai berikut :
- Tujuan Jasmani
Ibnul Qayyim رَحِمَهُ اللهُ sangat memperhatikan tumbuh kembang fisik anak sejak lahir. Anak yang baru lahir dilarang untuk dibawa bepergian walaupun untuk ibadah seperti umrah atau haji, beliau mengatakan,
“Seharusnya dilarang membawa mereka, dan melakukan tawaf dengan mereka sampai tiga bulan berikutnya; karena alam mereka masih dekat dengan alam rahim ibu dan tubuh mereka masih lemah”(4).
Demikian pula dalam hal asupan makanan, perlu diperhatikan sejak bayi. Hendaknya bayi dicukupkan diberi asi, sampai tumbuh gigi. Ibnul Qayyim berkata,
“Seyogianya mereka hanya diberikan susu sampai gigi mereka tumbuh, karena lemahnya perut dan kekuatan pencernaan mereka terhadap makanan.”(5).
Setelah gigi bayi tumbuh, pemberian makanan diberikan secara bertahap. Dimulai dari makanan yang lembut, beliau mengatakan,
“Mereka harus diberi makanan secara bertahap. Pertama kali mereka diberi makan dengan makanan yang lunak, seperti roti yang direndam dalam air panas dan susu murni. Setelah itu, mereka diberi masakan dan kuah tanpa daging. Kemudian, mereka dapat diberi daging yang sangat lembut setelah dikunyah atau dihaluskan.”(6).
Bayi hendaknya dibungkus agar dapat menopang tubuhnya dengan baik, beliau berkata,
“Sebaiknya jangan mengabaikan pentingnya pembungkusan dan pengikatannya, meskipun itu sulit, sampai anggota tubuhnya kuat, dan ia dapat duduk di tanah. Saat itulah ia dilatih dan dibiasakan untuk bergerak dan berdiri sedikit demi sedikit sampai ia memiliki keterampilan dan kekuatan untuk melakukannya sendiri.”(7).
Kadar makanan dan minuman juga peru diperhatikan. Makan dan minum secukupnya, jangan sampai kenyang, beliau mengatakan,
“Mereka sebaiknya diberi makan tidak sampai kenyang, agar pencernaan mereka baik, cairan tubuh mereka seimbang, dan kelebihan dalam tubuh mereka berkurang. Hal ini akan membuat tubuh mereka sehat dan mengurangi penyakit karena sedikitnya sisa makanan dalam tubuh.”(8).
2. Tujuan Akhlak
Ibnul Qayyim رَحِمَهُ اللهُ berpandangan bahwa kebahagiaan itu diraih dengan menghiasi diri dengan akhlak terpuji dan menjauhi akhlak tercela, beliau berkata,
“Ketika jalan untuk berbohong dan berkhianat menjadi mudah baginya, itu akan merusak kebahagiaan dunia dan akhiratnya serta menghalanginya dari segala kebaikan.”(9).
Para pendidik hendaknya memperhatikan pendidikan akhlak sedari dini. Beliau mengatakan,
“Hal yang sangat dibutuhkan oleh anak; perhatian terhadap pembentukan akhlaknya, karena ia akan tumbuh berdasarkan apa yang dibiasakan oleh pendidiknya di masa kecilnya.”(10).
Pergaulan anak-anak perlu dijaga, hindarilah orang-orang yang berdosa, beliau berkata,
“Hindarkanlah anak dari berlebihan dalam makan, berbicara, tidur, dan bergaul dengan orang-orang yang berdosa, karena ada kerugian dalam kelebihan-kelebihan ini, yang akan menghilangkan kebaikan dunia dan akhiratnya.”(11).
Ibnul Qayyim juga menganjurkan agar anak laki-laki dijauhkan dari sifat lembek dan tasyabbuh dengan perempuan. Beliau menyatakan,
“Hindarkanlah dia dari memakai sutra, karena itu merusaknya dan melemahkan sifat kelaki-lakiannya, serta hindarkanlah dia dari perbuatan sodomi (LGBT), minum khamar, mencuri, dan berbohong.”(12).
3. Tujuan Kognitif
Menurut Ibnul Qayyim رَحِمَهُ اللهُ, pendidikan bertujuan memelihara pikiran dan akal peserta didik. Beliau berkata,
“Berhati-hatilah sepenuhnya dari membiarkannya mengonsumsi sesuatu yang dapat menghilangkan akalnya, baik itu minuman keras atau yang lainnya, atau bergaul dengan orang yang dikhawatirkan keburukannya,atau berbicara dengannya, atau berinteraksi dengannya, karena semua itu adalah kebinasaan. Jika hal tersebut dianggap remeh, maka akan menjadi mudah baginya untuk melaku perbuatan tercela.”(13).
4. Tujuan Pedagogis
Di antara tujuan pendidikan menurut Ibnul Qayyim رَحِمَهُ اللهُ adalah mengungkap kemampuan dan keterampilan peserta didik serta mengarahkannya ke arah yang benar. Beliau mengatakan,
“Yang seharusnya diperhatikan adalah kondisi anak, tugas-tugas perkembangannya, dan apa saja yang perlu disiapkan. Pendidik harus mengetahui bahwa anak itu memiliki batasan, sehingga dia tidak mendorongnya ke hal-hal yang tidak diizinkan menurut syari’at. Jika dia mendorongnya ke hal-hal yang tidak siap untuknya, anak tidak akan berhasil di dalamnya dan akan kehilangan apa yang telah disiapkan untuknya. Jika dia melihat anak memiliki pemahaman yang baik, persepsi yang benar, kemampuan hafalan yang baik, dan kesadaran yang tinggi, ini adalah tanda-tanda penerimaannya dan kesiapannya untuk belajar (cenderung menjadi ahli ilmu-pen). Maka, ia harus menuliskan hal itu di dalam hatinya selama hatinya masih kosong. Jika dia melihat bahwa anak itu mampu dan stabil, hal itu dilanjutkan. Tetapi, jika dia melihat yang sebaliknya dari segala sisi, dia siap untuk berlatih (cenderung menjadi tentara-pen)
seperti naik kuda, memanah, bermain dengan tombak, dan dia tidak memiliki minat dalam ilmu, tidak pula membuat alasan-alasan untuk berlatih kuda, maka hal yang lebih baik baginya dan bagi umat Islam adalah ditempatkan di bidang yang lebih sesuai. Tetapi jika dia melihat hal lain, bahwa anak tersebut tidak diciptakan untuk hal tersebut, tetapi matanya terbuka terhadap salah satu jenis keterampilan, dan dia siap serta mampu untuk itu, dan itu adalah keterampilan yang halal
dan bermanfaat bagi manusia, maka biarkan dia menekuninya semua itu setelah dia diajari apa yang dibutuhkannya dalam agamanya, karena itu akan memudahkan bagi setiap orang; agar hujjah Allah berdiri atas hamba-Nya, karena dia memiliki hujjah yang sempurna atas hamba-hamba-Nya, sebagaimana Dia memberikan nikmat yang melimpah kepada mereka.”(14).
Ini merupakan salah satu prinsip dari prinsip-prinsip penting dalam ilmu pedagogis yang kemudian menjadi sub- sub disiplin ilmu tersendiri dengan prinsip-prinsip, metode, standar, serta penilaian khusus. Ibnul Qayyim رَحِمَهُ اللهُ memiliki perhatian dan keunggulan di bidang ini.
Wallahu a’lam.
