Ditulis Oleh : Sandi Riyanto

Pendidikan adalah hal penting yang harus dilalui dalam fase kehidupan manusia. Seseorang yang melalui fase ini dengan baik tentu akan mempunyai value yang berbeda dengan orang yang hanya melaluinya dengan sekedarnya saja atau tidak melaluinya sama sekali.
Perbedaan kualitas pendidikan yang diterima seseorang juga ternyata bisa menyebabkan perbedaan kualitas pada diri seseorang. Tentunya pendidikan yang dimaksud di sini adalah makna pendidikan secara umum, bukan pendidikan yang didapat secara khusus dari bangku sekolah.
Banyak orang yang tidak pernah merasakan pendidikan di bangku sekolah, tetapi mereka terlihat matang dan mempunyai kualitas diri yang baik. Begitu pun sebaliknya, banyak juga orang yang pernah merasakan bangku sekolah terkadang justru mereka kurang matang dan kurang mampu meningkatkan kualitas dirinya.
Dengan demikian, pada dasarnya pendidikan itu bisa didapat di mana saja dan kapan saja tidak mesti harus di sekolah. Namun terkadang dalam melaksanakan pendidikan, diperlukan sistem dan tempat khusus untuk menunjang kualitas sebuah pendidikan. Sehingga dengan alasan tersebut mulai dibangun gedung sekolah serta sarana prasarana lainnya demi menunjang dan memfasilitasi visi misi penyedia layanan pendidikan.
Benarkah pendidikan adalah hal penting yang harus dilalui dalam fase kehidupan manusia? Jawabannya benar. Dan fase yang paling baik untuk seseorang menerima pendidikan itu adalah pada fase anak-anak. Karena pendidikan di usia anak-anak lebih besar pengaruhnya dan lebih tertanam kuat pemahamannya. Doktrin-doktrin pendidikan akan terus terkenang dan membekas di benak anak-anak hingga dewasa.
Berkata Hasan Al Bashri
العلم في الصغار كالنقش على الحجر
Belajar di waktu kecil bagaikan mengukir di atas batu
(Khulashah Ta’dzimul ‘llmi, Al ‘Ushaimi)
Karena usia dewasa adalah usia di mana mulai banyak kesibukan-kesibukan, sehingga seseorang tidak bisa fokus untuk belajar suatu disiplin ilmu. Namun jika dia bisa mengatasi itu semua, maka itulah yang terbaik baginya dan ilmu pun akan dia peroleh. Tetapi hal ini tidak boleh dijadikan alasan bagi orang dewasa untuk tidak belajar disiplin ilmu.
Al Imam Bukhari mengatakan di kitab shahihnya pada bab ilmu
وقد تعلم أصحاب رسول الله صلى الله عليه و سلم في كبر سنهم
Sungguh para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mereka ada yang belajar disiplin ilmu pada usia yang sudah tidak muda lagi
Benarkah pendidikan bisa didapat di mana saja dan kapan saja tidak harus di sekolah? Jawabannya benar. Dan tempat untuk memulai pendidikan terbaik bagi seseorang adalah di lingkungan keluarganya, yaitu di rumah.
Dalam sebuah syair Arab yang masyhur disebutkan
الأم مدرسة الألى
Ibu adalah sekolah pertama (bagi anak-anaknya)
Ketika seorang ayah mencari nafkah untuk keluarganya, maka ibu-lah yang akan mendidik anak-anaknya di rumah. Sehingga rumah menjadi tempat pendidikan terbaik bagi seorang anak sebelum dia tumbuh dewasa dan siap untuk mengarungi kehidpuan yang sesungguhnya.
Diriwayatkan oleh Ibnul Jauzi bahwa Imam Ahmad pernah ditanya oleh seseorang
يا أبا عبد الله أنت قد بلغت هذا المبلغ. وأنت إمام المسلمين.
Wahai Abu Abdillah sungguh engkau telah mencapai (ilmu) pada pencapaian ini. Dan engkau juga sudah menjadi imam besar kaum musilimin (Kenapa engkau masih menuntut ilmu)
Maka Imam Ahmad menjawab
مع المحبرة إلى المقبرة
Bersama kotak puplen ini sampai ke kuburan
(Al Manaqib : 55)
Jawaban Imam Ahmad memberikan isyarat bahwa pendidikan bisa dilakukan kapan saja selama hayat masih dikandung badan dan belum tiba kematian.

Bicara tentang pendidikan, pendidikan ternyata juga menjadi tolok ukur kemajuan suatu bangsa. Kita lihat di zaman sekarang, bangsa yang memiliki tingkat kualitas pendidikan yang baik ternyata berbanding lurus dengan kamajuan bangsa tersebut.
Namun demikian, hal tersebut hanya menjadi barometer dari timbangan keberhasilan duniawi saja tanpa memperhitungkan keberhasilan ukhrowi. Hal ini sangat berbeda dengan prinsip pendidikan islam yang menjadikan akhirat juga sebagai barometer keberhasilan sebuah pendidikan.
Tentu bagi seorang muslim, pendidikan bukan hanya soal kemajuan dan kesuksesan dunia saja, tetapi juga soal bagaimana melalui pendidikan ini kita bisa mencapai keberhasilan dunia dan juga mendapat keridhoan Allah Ta’ala. Sehingga akan tercapai pula kesuksesan ukhrowi-nya.
Hal ini sesuai dengan prinsip kesuksesan seorang muslim, yang Allah firmankan :
فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ
“Barang siapa yang dijauhkan dari api neraka dan dimasukan ke dalam surga, maka sunguh dia telah mendapat kesuksesan (kemenangan)”
(QS Ali Imran : 185)
Hakikat kesuksesan seorang muslim adalah tatkala Allah Ta’ala selamatkan dirinya dari api neraka dan dimasukan ke dalam surga.
Akan tetapi, Allah juga tidak melarang kita untuk mengambil bagian dari perkara dunia, Allah berfirman :
وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا
“Dan jangan kalian lupakan (juga) bagian kalian dari dunia”
(QS Al Qashash : 77)
Karena kita hidup di dunia, maka kita tidak akan pernah bisa lepas dari perkara dunia kecuali setelah kita berpisah dengannya (meninggal). Oleh karena itu Allah memerintahkan kita untuk tidak meninggalkan seluruhnya dari perkara dunia ini. Dan Pendidikan termasuk bagian dari perkara dunia.
Maka pertanyaannya sekarang adalah, “sejauh mana kita bisa menjadikan pendidikan yang termasuk perkara dunia ini sebagai kendaraan kita untuk menuju akhirat dengan mengharapkan ridho Alllah Ta’ala?”
Jawaban pertanyaan di atas adalah, selama :
1. Sekolah selaku provider tidak hanya memikirkan keuntungan secara materil saja
2. Guru selaku pengajar tidak hanya memikirkan bagaimana caranya beban mengajar terselesaikan dan bayaran diterima
3. Orangtua siswa selaku user tidak hanya menyerahkan sepenuhnya siswa ke sekolah tanpa memperdulikan prinsip cooperative
Masing-masing stakeholder harus mempunyai prinsip yang sama, yaitu menjadikan pendidikan sebagai sarana untuk menggapai keridhoan-Nya, sembari tetap tidak melupakan bagiannya dari dunia.
Jika yang demikian terlaksana, maka bukan tidak mungkin kesuksesan pendidikan yang diimpikan akan segera terwujud.
Terus, bagaimanakah sebaiknya pendidikan itu dimulai?
Bersambung insya Allah….
