
oleh : Sri Lestari
Benarkah pernyataan tersebut? Sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan bahasa gaul itu? Apakah termasuk bahasa daerah? Yuks, kita simak penjelasan berikut ini.
Bahasa gaul adalah bentuk bahasa informal yang digunakan untuk berkomunikasi secara santai, terutama oleh anak muda. Sedangkan, bahasa daerah adalah bahasa yang digunakan oleh masyarakat di suatu wilayah sebagai alat komunikasi sehari-hari dan bagian dari identitas budaya setempat.
Hampir semua anak di zaman sekarang sering sekali berbicara dengan menggunakan bahasa gaul. Walapun tidak sedikit dari mereka yang hanya ikut-ikutan saja. Namun, mereka merasa bangga dengan bahasa yang mereka gunakan itu, meskipun tidak mengetahui artinya. Dalam kehidupan sehari-hari, di zaman yang sudah banyak mengalami perkembangan ini, baik dalam hal teknologi maupun sosial, anak-anak cenderung melakukan sesuatu yang tidak didasari dengan rasa takut kepada Allah.
Dengan berkembangnya teknologi yang begitu pesat, kita menjadi sangat mudah dalam memperoleh berbagai macam informasi. Teknologi informasi memiliki banyak manfaat bagi kita, namun ternyata juga banyak memberikan mudharat, khususnya kepada anak muda sebagai generasi bangsa.
Pengaruh buruk apa saja sih yang sudah membuat anak-anak muda di negara kita ini kehilangan akalnya? Maaf, mungkin ini terdengar kasar, namun pada kenyataannya anak-anak muda, dari berbagai usia ketika sudah mengenal gadget dan sudah terbiasa berselancar di dunia maya, mengalami perubahan sikap yang sangat signifikan. Sungguh luar biasa pengaruh gadget ini. Dari A-Z ada di benda kecil ini.
Media sosial memiliki peran yang sangat besar dalam penyebaran bahasa gaul. Platform seperti Instagram, Twitter, dan TikTok, YouTube, memungkinkan pengguna untuk berinteraksi secara cepat dan luas, sehingga istilah-istilah baru dapat menyebar dalam waktu singkat.
Tidak akan cukup waktu untuk membicarakan pengaruh buruk dari benda ini. Kita ambil satu contoh kasus yang sekarang ini sering kita jumpai dan kita dengar. Di berbagai tempat kita dengar, di sekolah, di terminal, di jalanan, di angkutan umum, bahkan mungkin di rumah kita sendiri, kita sering mendengar kata-kata yang aneh keluar dari lisan anak-anak kita. Kata-kata yang ejaannya sulit diucapkan sesulit makna dari kata itu sendiri.
Sebagai contoh, kata-kata yang sudah beredar bebas sebebas burung terbang di angkasa, terdengar di kalangan anak-anak usia sekolah dasar. Kata-kata berikut hanya sebagian kecil yang saya dengar, entah ada berapa trilyun kata-kata gaul yang sudah berkembang sekarang ini. Mereka menyebutnya bahasa Gen Alpha. Nih dia, kata-katanya:
- Sigma : bagus, cakep
- Skibidi : jelek, ga keren
- Big L : pecundang
- Fanum tax : mengambil makanan
- Mewing : pamer rahang
- Rizz : romantis
- Ohio : aura
- Minus 5000 aura
Dan masih buaanyaak lagi…
Sejujurnya miris mendengar anak-anak sekarang lebih suka belajar bahasa gaul ini ketimbang belajar bahasa Al Quran, yaitu bahasa Arab. Alangkah indahnya, ketika kita mendengar bahasa Arab sering terlontar dari mulut anak-anak kita. Maa syaa Allah.. Ini khusus bagi yang sudah belajar bahasa Arab ya.. Jika belum ya minimal dengan bahasa Indonesia atau bahasa daerah yang baik, sopan, dan santun.
Rasulullah ﷺ sebagai suri tauladan kita telah memberikan contoh yang sangat luar biasa dalam bergaul dengan masyarakat luas. Meskipun pada zaman itu belum ada gadget, namun ada hal-hal yang serupa dengan kejadian saat ini. Rasulullah ﷺ mampu menghadapi berbagai sifat dan watak manusia dengan lembut namun tegas. Bahkan bukan hanya kepada manusia, kepada hewan pun beliau berlaku baik. Dan yang jelas beliau tidak meniru atau mencontoh kebiasaan buruk dari kaum Yahudi atau Nasrani. Sebagaimana hadits beliau,
Dari Ibnu Umar berkata, Rasulullah ﷺ bersabda,
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka.” (HR. Abu Dawud, Al-Libas, 3512. Al-Albany berkata dalam Shahih Abu Dawud, Hasan Shahih no. 3401)
Sudah jelas, beliau melarang kita untuk mengikuti kebiasaan orang kuffar. Jika kita mencintai beliau, maka harus mendengar dan ta’at kepada perintah dan larangan beliau.
Kita harus memberikan pemahaman kepada anak-anak kita bahwa kita tidak perlu takut dan minder jika ada yang mengatakan kita tidak gaul, toh kita tidak akan rugi, malah jika kita ikut bergaul yang salah, kita akan rugi, rugiii sekali.. Semoga Allah menjaga anak-anak kita dari fitnah akhir zaman ini dan semoga mereka menjadi generasi penerus bangsa yang berkarakter dan berakhlaq mulia. Aamiin.
Akhirnya, dapat kita simpulkan bahwa media sosial adalah wabah yang efektif untuk penyebaran bahasa gaul. Dan hal itu mengancam bahasa Indonesia dan juga bahasa daerah menjadi punah atau ketinggalan zaman, karena semakin sedikitnya penutur asli yang menggunakan bahasa tersebut, terutama di kalangan generasi muda. Selain itu, kurangnya pewarisan bahasa dari generasi tua ke generasi muda serta peran media yang lebih mempromosikan bahasa dominan turut mempercepat proses kepunahan. Mari kita lestarikan budaya negara kita, Indonesia!
wallahu ‘a’lam bishawab
